Ikhtiar Menjawab Tuntutan Jaman

 

Bangun! Bangun! Bangun!”. Bentakan keras itu sangat mengagetkan kami yang baru terlelap sekitar dua jam. Saya membuka mata dan tidak segera menyadari apa yang terjadi. Banyak petugas berseragam di ruangan. Mereka terus berusaha membangunkan kami, puluhan mahasiswa peserta Basic Training[1] (Batra) HMI, yang tengah tidur di lantai beralas tikar.

Lalu mereka meminta semuanya segera meninggalkan lokasi pelatihan—sebuah bangunan di Jalan Dagen, Yogyakarta, yang sekaligus menjadi sekretariat HMI Cabang Yogyakarta. Ya, acara dibubarkan paksa. Seorang panitia mendekat dan berbisik bahwa kami akan dikumpulkan lagi untuk melanjutkan agenda di sebuah tempat.

Namun, malam itu saya dan beberapa teman yang berjalan ke arah utara gagal ditemukan lagi oleh panitia. Tentu saja belum ada telepon genggam pada tahun 1986 itu sehingga tak bisa saling mengabarkan posisi. Sepanjang dini hari kami lalu “menggelandang” karena belum bisa kembali ke kost. Sampai akhirnya kami memutuskan tidur di sebuah masjid hingga subuh.

Sampai sekarang saya tak bisa melupakan peristiwa tersebut. Bukan saja karena kejadiannya yang lumayan heroik untuk ukuran mahasiswa tahun awal seperti saya (angkatan 1985), tetapi insiden itu adalah simbol terbaik untuk menjelaskan bagaimana relasi HMI dengan kekuasaan saat itu. Korps Hitam-Hijau[2] ini adalah organisasi mahasiswa yang terus diawasi karena dianggap menjadi ancaman status quo.

Maka, bahkan sebuah training yang digelar di “rumah sendiri” pun tetap mesti dibubarkan dengan alasan tidak memiliki izin. Proses pertumbuhan organisasi ekstra mahasiwa ini mesti di-pithes[3] sejak dini, yakni pada malam pertama ketika kaderisasi tengah berlangsung. Ketua panitia dibawa dan ditahan selama tiga hari. Semua ini hanyamenjelaskan satu hal: betapa kekuasaan demikian paranoid dalam memandang setiap sikap kritis hingga pemberangusan akan selalu dilakukan. Pemahaman semacam itulah yang kemudian membentuk sikap saya selama aktif di HMI. Saya memutuskan ikut Batra lagi setahun kemudian, dengan bumbu peristiwa yang juga tak kalah heroik.

Setelah lulus Batra, saya mengikuti berbagai kegiatan internal organisasi dengan dilandasi salah satu keyakinan: kami tengah berjuang melawan kekuasaan yang lalim.

Sejarah mencatat bahwa era 1980-an adalah puncak otoritarian kekuasaan Orde Baru. Lembaga-lembaga tinggi negara diberangus. Semua kekuatan kritis masyarakat ditindas. Media massa diawasi bahkan sampai ke ruang redaksi. Organisasi massa diteropong ketat lewat sebuah undang-undang keormasan (dan catat HMI adalah salah satu dari sedikit saja organisasi yang melawan beleid[4] tersebut dengan nyata!). Mahasiswa hanya diberi kelonggaran berkegiatan yang sifatnya murni akademis atau leisure, dan bukan yang mengembangkan sikap peduli sosial-politik. Semua itu dilakukan dengan menjadikan polisi dan tentara sebagai alat kekuasaan.

Maka, tahun-tahun bersama HMI, sebuah organisasi yang berusaha melawan dominasi kekuasaan itu, adalah masa yang nikmat bagi saya. Menyiapkan landasan kerja organisasi, merumuskan strategi gerakan, dan lalu mewujudkannya dalam berbagai bentuk kegiatan, saya jalani dengan aliran darah yang melaju lancar.

Saya ingin memberi contoh situasinya. Rapat-rapat menyusun penerbitan Makro[5] yang terbit regular per tiga (atau dua?) bulanan, menghubungi kontributor tulisan, mewawancarai narasumber, menulis naskah, mengatur tata letak, lalu menyetor ke percetakan, kami lakukan dengan adrenalin yang berdegup kencang. Dengan bergairah!

Saya merasa nikmat karena meyakini bahwa seluruh kegiatan yang tengah dikerjakan tidak untuk kesia-siaan. Menyiapkan penerbitan rutin adalah untuk menjaga kesadaran ihwal yang benar dan salah. Begitu juga seluruh kegiatan lain dijalani demi berputarnya roda organisasi yang tengah mengemban tugas sejarahnya: ikut mengikhtiarkan perubahan! Saya merasa sebagian besar teman-teman saat itu juga meyakini hal yang sama. Kami berada dalam gelombang yang tidak berbeda. Kami bergerak dengan basis kesadaran yang dibangun secara komunal. Tentu saja ada varian-varian kecil dalam melakukan pembacaan situasi. Namun, setidaknya saya melihat mereka merasakan kegembiraan dan kegairahan yang sama dalam mendenyutkan nadi organisasi.

Tentu saja, seperti selalu ditekankan pada materi pertama dalam Batra bahwa landasan bergerak paling dasar adalah mardhatillah, semata-mata karena Alah SWT. Namun, konsep ini membutuhkan turunan yang lebih nyata agar rute perjuangan bisa dipetakan dengan jelas. Dari mana berangkat, dan hendak menuju ke mana.

Saya, dengan segala kedaifan[6] yang ada, merasa sudah berusaha memenuhi tanggung jawab yang terbebankan pada era itu. Hasilnya, biarlah waktu yang menilai. Saya rasa hal semacam itu yang juga menjadi tanggung jawab setiap kader HMI (yang masih aktif maupun telah alumni): selalu menjawab panggilan jaman[7] !∎

Tulus Wijanarko [Alumni] – Redaktur Pelaksana Tempo

Catatan indeks:

  1. Basic Training (Batra) HMI: nama lain Latihan Kader (LK) I HMI, yaitu pelatihan kader yang berisi program pematerian pengetahuan dasar tertentu yang juga merupakan ‘open recruitment’-nya HMI.
  2. Korps Hitam-Hijau: julukan HMI atas identitas warnanya, hitam dan hijau
  3. di-pithes (bahasa Jawa): ditekan keras-keras
  4. beleid: kebijaksanaan, kebijakan
  5. Makro: majalah edaran HMI FEB UGM
  6. daif: kelemahan, kehinaan
  7. jaman: bentuk bakunya adalah zaman

HMI Cabang Sleman

HMI cabang Sleman, Menuju tatanan peradaban Islam, meraih izzah islam dengan perjuangan MEMPERTEGUH PERKADERAN, MENGABDI UNTUK UMAT BERKARYA UNTUK BANGSA
Close Menu
%d blogger menyukai ini: