Mengkritisi Inisiatif Literasi Keuangan Melalui Edukasi di Indonesia

 

Dalam beberapa tahun terakhir, literasi finansial telah memperoleh perhatian dari berbagai perusahaan besar perbankan, instansi pemerintah, komunitas pemuda, dan organisasi lainnya. Karena bidang literasi finansial berbasis komunitas masih berkembang, yang sebagian besar masih ditandai dengan “inovasi tidak terkoordinasi”[1], pemangku kepentingan yang beragam mencoba pendekatan berbeda melalui berbagai pengalaman. Pembuat kebijakan khawatir konsumen tidak memiliki pengetahuan tentang konsep finansial dan tidak memiliki standar yang mereka butuhkan dalam membuat keputusan yang paling bermanfaat untuk kesejahteraan ekonomi mereka. Rendahnya tingkat literasi keuangan tersebut dapat mempengaruhi individu atau manajemen keluarga sehari-hari termasuk dalam tujuan jangka panjang, seperti pembelian rumah, pencarian pendidikan yang lebih tinggi, ataupun pembiayaan pensiun. Pengelolaan keuangan yang tidak efektif juga dapat mengakibatkan timbulnya perilaku yang membuat konsumen rentan terhadap krisis keuangan.

Seiring meningkatnya kekhawatiran finansial, berbagai program pelatihan literasi finansial dan beberapa informasi yang komprehensif menawarkan hal serupa untuk khalayak luas yang disesuaikan dengan kelompok tertentu, seperti pemuda atau lembaga keuangan serta fokus pada tujuan tertentu, seperti kepemilikan rumah atau tabungan. Maka dari itu, tugas selanjutnya bagi para pembuat kebijakan terhadap upaya peningkatan literasi finansial adalah berpikir cermat tentang bagaimana upaya tersebut dapat terintegrasi dengan kebijakan publik lainnya dan sejauh mana kebijakan tersebut mampu berperan menjadi pengganti atau pelengkap kebijakan yang sudah ada.

OECD (2005) dan OJK (2013) dalam laporannya menyimpulkan bahwa tingkat literasi keuangan yang masih rendah bisa ditingkatkan melalui program edukasi keuangan untuk memberikan pengetahuan dan kesadaran bagi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan keuangan yang cerdas dan bijak. Dalam kenyataannya, selama ini program edukasi keuangan di Indonesia sudah dilakukan melalui inisiatif Bank Indonesia (OJK) dan bekerja sama dengan lembaga keuangan, tapi masih cenderung bersifat insidental dan belum mampu menjangkau sebaran geografis maupun sasaran subjek yang luas. Dengan demikian, perlu adanya arah baru untuk merancang program edukasi finansial di Indonesia.

Sebagai masyarakat negara berkembang, konsumen yang memiliki pendidikan finansial yang tinggi dapat membantu memastikan bahwa sektor keuangan memberikan kontribusi efektif untuk pertumbuhan sektor riil dan pengentasan kemiskinan. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi para pembuat kebijakan dan pendidik dalam erancang dan memberikan pendidikan literasi finansial untuk memenuhi kebutuhan semua lapisan kelompok masyarakat luas.

Namun, pendidikan finansial hanyalah salah satu pilar dari kebijakan keuangan yang memadai untuk meningkatkan literasi finansial dan akses layanan keuangan. Pendidikan keuangan dapat melengkapi, tetapi tidak pernah bisa menggantikan, aspek lain dari kebijakan keuangan yang telah berjalan seperti perlindungan konsumen dan peraturan lembaga keuangan.

Maka dari itu, meningkatkan literasi finansial harus menjadi perhatian utama bagi para pembuat kebijakan dengan potensi kemanfaatan tidak hanya bagi pembuat kebijakan itu sendiri, tetapi juga bagi, masyarakat yang mempunyai kehidupan finansial yang aman dan untuk masyarakat yang rentan kondisi finansialnya. Selain itu, ada peran kunci bagi sektor swasta dan sektor publik dalam peningkatan literasi finansial. Pertama, pemberian informasi yang kredibel dari kedua sektor. Kedua, pengintegrasian kebijakan yang ada terhadap perilaku keuangan dapat meningkatkan efek dari inisiatif literasi finansial serta meningkatkan daya dan upaya yang lebih membumi dalam meningkatkan literasi finansial.

Program edukasi keuangan perlu diarahkan pada seluruh komponen masyarakat dengan jangkauan yang lebih luas. Untuk itu, perlu adanya kolaborasi dari semua elemen yang berkepentingan melalui pesan kampanye literasi keuangan untuk mengarahkan masyarakat dalam melakukan inisiasi literasi keuangan di Indonesia melalui berbagai program edukasi finansial di Indonesia∎

Abdul Hafidz Asri – Kader HMI FEB UGM, Manajemen 2011, Founder and Strategic Director Youth Finance Indonesia

HMI Cabang Sleman

HMI cabang Sleman, Menuju tatanan peradaban Islam, meraih izzah islam dengan perjuangan MEMPERTEGUH PERKADERAN, MENGABDI UNTUK UMAT BERKARYA UNTUK BANGSA
Close Menu
%d blogger menyukai ini: