PERIHAL PERGERAKAN MAHASISWA (pertanyaan-pertanyaan kritis)

Mengapa mahasiswa (harus) bergerak? Apakah pergerakan atau kehadiran gerakan mahasiswa merupakan suatu keharusan sejarah? Atau sekedar kebetulan sejarah? Apakah salah jika mahasiswa memilih diam, dan menuntaskan maksud awalnya ketika datang ke kampus? Apakah mereka yang belajar dengan tekun, dan kemudian mencapai derajat persekolahan tertinggi, adalah tindakan yang cela?

Kalau gerakan mahasiswa adalah suatu keharusan, maka yang menjadi persoalan adalah keharusan terhadap apa? Apa yang hendak diperjuangkan: atau kalau gerakan mahasiswa dipandang sebagai sebuah jawaban, maka yang menjadi pertanyaan adalah apa pertanyaan yang menjadi pertanyaan sehingga gerakan mahasiswa adalah jawabannya?

Apakah gerakan mahasiswa adalah suatu kerja yang bersifat sendiri, otonom dan terpisah dari berbagai jenis dan bentuk pergerakan, seperti pergerakan petani, buruh, guru, gerakan keagamaan, dan lain-lain. Kalau dia bersifat otonom, mengapa? Kalau dia tidak bersifat otonom, mengapa? Apa yang memisahkan dan apa yang mempersatukan? Atau bahkan gabungan keduanya, suatu kombinasi yang bersifat dinamis, yang mengikuti dialektika yang ada di masyarakat.

Apa sebetulnya tujuan dari gerakan? Apakah sekedar control terhadap kekuasaan? Apa yang hendak dikontrol? Moral pejabat publik? Atau moral kekuasaan? Atau kedua-duanya? Lantas apa yang menjadi dasar pembenar dari sikap moral atau politik mahasiswa? Apakah sekedar normatif(me)? Ataukah ada dasar yang lain – suatu ideology atau suatu pandangan kemasyarakatan atau suatu cita-cita social tertentu?

Apa basis gerakan mahasiswa? Jumlah atau kualitas yang dibutuhkan? Apakah hanya kalangan mahasiswa? Dan dengan demikian mahasiswa harus melakukan aktivitas rekrutmen dalam jumlah yang besar. Ataukah kalangan di luar mahasiswa, seperti kelompok buruh, kaum miskin kota, petani, atau basis-basis social-politik di pedesaan, atau masyarakat umum? Atau gerakan hanya berbasiskan pada wacana, dan secara demikian jumlah tidak penting, dan yang lebih penting adalah kualitas?

Apakah gerakan mahasiswa harus besar, atau cukup kecil? Bagaimana gerakan mahasiswa membesarkan dirinya? Apa yang menjadi pembenar dari langkah-langkah pembesaran tersebut? Bagaimana mengukur besar dan kecilnya suatu gerakan? Apakah gerakan mahasiswa pada tahun 1998 adalah gerakan yang besar, ataukah tidak? Atau pertanyaan ini sendiri tidak relevan, karena ketika itu yang paling dipentingkan adalah jatuhnya sebuah rejim?

Kalau gerakan mahasiswa harus besar dan memerlukan langkah-langkah membesarkan, dan atau meluaskan, maka yang menjadi pertanyaan adalah mengapa gerakan mengalami proses pengecilan, atau bahkan pada periode tertentu hilang? Apakah rejim sekarang ini merasakan tekanan dari gerakan mahasiswa? Ataukah rejim sekarang ini lebih merasakan tekanan dari media, dan beberapa kelompok kelas menengah?

Kalau terasa kurang tekanan mahasiswa? Apakah karena gerakan mahasiswa tidak ada, atau telah berkurang kadar kualitas maupun kuantitasnya, ataukah ada factor-faktor lain? Atau apakah karena sebagian dari elemen gerakan mahasiswa menjadi bagian dari kekuasaan, sehingga yang dilakukan bukan suatu tekanan malah sebaliknya, suatu dukungan?

Jika kita mengatakan bahwa gerakan mahasiswa mengalami penurunan, yang menjadi pertanyaan: mengapa hal tersebut terjadi? Dan mengapa hal tersebut dinyatakan secara “sedih”? Apakah gerakan mahasiswa mirip dengan tanaman, dimana ketidakhadiran dari suatu kehadiran yang lama, dipandang sebagai akibat dari perubahan-perubahan mendasar, seperti hilangnya akar yang menjadi jalan bagi pertumbuhan baru? Apakah akar gerakan telah hilang? Faktor-faktor apa yang menyebabkannya?

Apa itu akar gerakan mahasiswa? Benarkah gerakan mahasiswa memiliki akar gerakan? Jika memiliki akar mengapa dapat hilang? Jika tidak hilang, mengapa tidak dapat menjadi pintu bagi pertumbuhan generasi baru yang lebih massif, mengingat tantangan yang ada jauh lebih kompleks ketimbang periode sebelum ini? Dimanakah akar gerakan (mahasiswa) tersebut?

Di luar itu semua, kita menyimpan pertanyaan yang mendasar, bukan bagi gerakan itu sendiri, melainkan pada elemen-elemen penggerak dari pergerakan mahasiswa, yakni benarkah kita ingin menjadi bagian dari pergerakan? Apa yang ingin kita dapatkan? Apakah sesuatu seperti juga yang ditampakkan oleh mereka yang ada di depan, yakni menjadi bagian dari kekuasaan Negara? Ataukah tidak, dimana diskusi mengenai gerakan hanya alat untuk menambah wawasan diri, bukan sarana untuk memperhebat pergerakan, agar suatu perubaan berlangsung dan mencapai maksudnya.

Sampai sini

Salam:

Dadang Juliantara

#diambil dari bahan diskusi up graiding Kastrat  dan Riset BEM KM UGM 2012

Diskusi HMI Cabang Sleman

 

 

 

 

 

 

 


ADS

HMI Cabang Sleman

HMI cabang Sleman, Menuju tatanan peradaban Islam, meraih izzah islam dengan perjuangan MEMPERTEGUH PERKADERAN, MENGABDI UNTUK UMAT BERKARYA UNTUK BANGSA
Close Menu
%d blogger menyukai ini: