Pertanda Sang Gembala

 

Judul: Sang Alkemis

Penulis: Paulo Coelho

Penerbit: Gramedia

Halaman: 216

Kategori: Fiksi

Novel Alchemist merupakan satu dari  sekian banyak karya Paulo Coelho yang booming. Banyak makna atau filosofi kehidupan yang tersirat pada kisah sederhana yang diangkatnya. Pada dasarnya Paulo Coelho memang memiliki latar belakang religi yang kuat. Meskipun demikian, Alchemist bukanlah novel yang hanya berkutat pada teori agama. Namun, lebih kepada bentuk aplikasi nilai-nilai keagamaan pada kehidupan nyata.

Hidup adalah pilihan. Segala yang terjadi merupakan konsekuensi dari pilihan yang kita jalani. Begitu pula yang terjadi pada Santiago. Seorang anak yang lebih memilih menjadi penggembala daripada menjadi pastur seperti yang diimpikan ayahnya. Sebuah perjalanan panjang dimulai saat ia berulangkali bermimpi menemukan harta karun dan memutuskan untuk menemui seorang peramal. Pada akhirnya Santiago mengikuti pertanda mimpinya. Ia menjelajah dari Andalusia menuju piramida Mesir dengan banyak peristiwa yang terjadi selama perjalanannya tersebut.

Santiago bersama rekan seperjalanan barunya, Sang alchemist, mengarungi gurun dan singgah di oasis untuk menghindari perang suku. Selama singgah di oasis, Santiago jatuh hati pada Fatima, seorang gadis gurun. Meskipun demikian, Santiago teguh melanjutkan petualangannya berbekal petuah Sang alchemist bahwa cinta sejati tidak pernah menghalangi orang mengejar takdirnya. Di tengah perjalanan, Santiago dan Sang alchemist bertemu dengan warga suku lain dan dituduh sebagai mata-mata dan akhirnya keduanya ditahan. Untuk membebaskan diri, Santiago harus merubah dirinya menjadi angin dalam waktu tiga hari. Mampukah Santiago mengubah dirinya menjadi angin untuk membaskan diri dari tuduhan? Lalu harta karun seperti apakah yang memakan waktu hingga hampir satu tahun pengembaraan?

Novel Alchemist ini menunjukkan bahwa tidak ada hal yang sia-sia di dunia ini. Semua peristiwa yang terjadi, kemalangan sekalipun memiliki hikmah yang berharga. Juga bahwa hendaknya setiap orang memperjuangkan kehidupannya sendiri. Ada satu petuah Sang alchemist yang cukup menarik, “Katakan pada hatimu, rasa takut akan penderitaan justru lebih menyiksa daripada penderitaan itu sendiri, dan tak ada hati yang menderita saat mengejar impian-impiannya.” Intinya adalah bahwa setiap mimpi itu hendaknya diperjuangkan tanpa rasa takut akan kegagalan. Kekhawatiran akan hal-hal yang tidak perlu terkadang membuat kita ragu untuk memperjuangkan impian. Keraguan membuat langkah kita terseok dan perlahan menyerah. Pada akhirnya kita akan menyesal setelah menyadari betapa dekatnya impian kita. Filosofi hidup yang terkandung dalam novel Alchemist sangat mengena, terlebih ilustrasinya dalam peristiwa hidup yang sederhana. Meskipun demikian, menemukan makna dan filosofi kehidupan dalam kata-kata Paulo Coelho bukanlah hal yang mudah. Penggunaan bahasa yang berat cukup memaksa pembaca lebih cermat dan sabar untuk membacanya berulang kali. Walaupun demikian, novel ini cocok untuk semua usia dan kalangan∎

Dwi Supatmi – Kader HMI FEB UGM, Ilmu Ekonomi 2014

HMI Cabang Sleman

HMI cabang Sleman, Menuju tatanan peradaban Islam, meraih izzah islam dengan perjuangan MEMPERTEGUH PERKADERAN, MENGABDI UNTUK UMAT BERKARYA UNTUK BANGSA
Close Menu
%d blogger menyukai ini: