Ekonomi, Kebahagiaan, dan Ekonomi Kebahagiaan

“Apa yang anda cari dalam hidup ini? Uang? Kebahagiaan? Apakah anda akan bahagia dengan uang? Apakah anda akan bahagia tanpa uang? Apa hubungan antara uang dan bahagia.”

Pagi itu kususuri deretan pedagang kue-kue kecil. Tampak Jalan Magelang pagi ini belum padat oleh lalu lalang kendaraan bermesin. Ditemani seorang teman dekat, kami memulai pencarian sarapan sambil berjalan santai mengedarkan pandangan pada kue atau apa saja yang menarik pandangan. Beberapa saat kemudian, kami bertemu ibu tua yang membawa keranjang nasi kuning yang di dalamnya terdapat beberapa pack nasi putih entah nasi uduk’ atau bukan. Beliau tidak memiliki lapak seperti yang lain, hanya duduk ngemper dekat motor-motor yang terparkir.

“Ini berapa, Bu, nasi kuningnya?”  “Seribu, Mbak,” “Berapa, Bu?” “Seribu, Mbak…” “Seribuan, Mol,” “Haah?” “Yaudah, kita ambil banyak, Bu.”

Begitulah kira-kira percakapan kami. Ukuran nasi kuning yang dikemas dengan plastik mika dengan hiasan sambal dan telur ini sangat murah. Saya tidak habis pikir saat ini masih ada pegadang yang menjual nasi kuning dengan harga seribu padahal sebenarnya ibu tua ini bisa menjual harga lebih reasonable.

“Kok murah banget sih, emangnya ibunya untung?,” tanyaku pada temanku yang kebetulan juga anak ekonomi. “Untung, Mol, ibunya mass production,” jawabku. “Yaa oke untung, tapi kan dikit, pasti dikit banget”, “Iya, tapi itu cukup untuk hidupnya dan mereka bahagia,” tutup temanku.

Ahh jawaban apa itu, percakapan tadi membuat saya berpikir di tahun ini masih ada orang yang jual nasi kuning seharga seribu. Sebenarnya saya kurang sepakat dengan pendapat temanku yang mengatakan ibu tua tadi bahagia dengan uang segitu, dia tahu dari mana. Beberapa saat kemudiam, teman saya bercerita jika dia pernah membina pedagang kecil sepertinya ibu tadi. Kebanyakan dari mereka tidak mau menaikkan harga daganganya karena mereka ingin pembeli bisa mendapatkan harga murah dan pada akhirnya akan terikat tali persaudaraan.

Pedagang-pedagang seperti ibu tua tadi memang hebat karena masih bisa bahagia di tengah kondisinya karena di mana-mana orang serakah, tidak mau untung sedikit, dan tidak pernah puas.

Apabila kita berpikir dengan kacamata anak ekonomi, kita akan menyimpulkan pedagang kecil seperti ibu yang saya temui di Jalan Magelang itu tidak akan maju perekonomiannya karena kalah bersaing dengan pedagang lainnya dan tidak bisa memaksimalkan profit yang seharusnya bisa dia dapatkan. Namun, tunggu dulu, kalah dalam persaingan apa ini, menimbun uang? Ya, mungkin kalah. Namun, orang yang telah banyak menimbun uang mungkin juga kalah bahagia dengan ibu tua tadi.

Ekonomi Kebahagian

Indeks Kebahagiaan (Happiness Index) masyarakat Indonesia pernah dipublikasi Badan Pusat Statistik (BPS) di tahun 2014 yang berisi hasil penelitian dari tahun 2013. Penelitian tersebut melibatkan 9.500 sampel masyarakat Indonesia. Dalam survei BPS Juli 2013, indeks kebahagiaan orang Indonesia rata-rata sebesar 65,11 dari skala 0 100. Skor 0 menunjukkan kondisi sangat tidak bahagia, sementara skor 100 menunjukkan kondisi sangat bahagia. Itu berarti masyarakat berada pada posisi bahagia, tetapi belum sangat bahagia. Berdasar survei tersebut, BPS menyatakan hal yang menarik, yaitu individu dengan tingkat pendapatan lebih dari Rp7,2 juta per bulan mencapai indeks kebahagiaan 74,64. Adapun individu dengan tingkat pendapatan kurang Rp1,8 juta per bulan memiliki indeks 61,8 dan individu dengan tingkat pendapatan Rp1,8 sampai Rp3 juta mencapai indeks 67,07. Tingkat pendapatan lebih dari 7,2 juta lebih bahagia daripada penghasilan di bawah angka tersebut.

Menanggapi temuan BPS tersebut, Kepala Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada (KPSKK UGM), Agus Heruanto Hadna, dalam sebuah kolom berita Kompas, menyatakan kritiknya bahwa beliau tidak percaya keberhasilan ekonomi linier dengan kebahagiaan individu. Beliaupun berpendapat dari kacamata kebijakan, pemerintah tidak cukup hanya membangun sektor ekonomi, melainkan juga dimensi lain yang bersifat psikologis.

Berdasarkan pemaparan di atas ada dua pendapat yang bisa disimpulkan. Keberhasilan ekonomi linier dengan kebahagiaan dan ada pula yang berpendapat keberhasilan ekonomi itu tidak linier dengan kebahagian. Masing-masing memiliki alasan yang rasional untuk mendukung pendapatnya masing-masing.

Percayalah bahwa semua orang membutuhkan kebahagiaan. Namun, meraih bahagia hanya dengan jalan yang disebut ‘uang’ itu nampak samar. Saya berani jamin apa pun kondisi ekonomi Anda, kunci bahagia adalah syukur. Rasanya semua orang sepakat dengan pernyataan ini walaupun nantinya BPS akan sulit mengukur rasa syukur individu sebagai variabel penelitian. Jika kekurangan uang membuat Anda tidak bahagia, carilah uang sampai Anda menemukan kebahagiaan itu. Namun, ketika Anda terus-menerus mencari uang dan Anda belum juga menemukan kebahagiaan, mungkin ‘uang’ bukan caranya. Temukan kebahagiaan itu disekeliling Anda. Bahagia itu sederhana. Selamat bersyukur∎

Maulida Rahma – Kader HMI FEB UGM, Manajemen, 2011

HMI Cabang Sleman

HMI cabang Sleman, Menuju tatanan peradaban Islam, meraih izzah islam dengan perjuangan MEMPERTEGUH PERKADERAN, MENGABDI UNTUK UMAT BERKARYA UNTUK BANGSA
Close Menu
%d blogger menyukai ini: