Pasar Tani vs Pasar Uang

Pasar Tani vs Pasar Uang

Pasar komoditas pertanian dan pasar forex agaknya sangat mirip, tuduhan bahwa keduanya dikendalikan mafia tak sepenuhnya salah tapi tak akan menghasilkan apapun!

Oleh karenanya di pasar uang, otoritas keuangan dan bank central berusaha menganalisa, membuat informasi berkala dan real time, membuat modeling dan mengendalikannya sedemikian rupa, agar situasi tetap terkendali dan kalau terjadi crash sekalipun bisa segera recovery, apa penyebab crash? Tak lain capital outflow, aksi jual besar-besaran dan minim pembeli! Makanya cadangan devisa negara atau bahkan pinjaman dicari utk dipake menenangkan pasar.

Nah, di pasar komoditas pertanian cara berpikirnya pengambilan kebijakan seharusnya bisa meniru; menganalisa alur, membuat informasi yang tepat, membangun modelingnya dan mengendalikannya dengan kebijakan yang tepat, jika di ekonomi ada crash di pertanian ada dua penyebab crash; gagal panen, bencana, dll (lack supply) dan over demand (peak seassion) yang mengahasilkan inflasi, maka pengendalian pun perlu dilakukan dengan sistem cadangan yang baik.Pasar Tani vs Pasar Uang

Jika di pasar uang muncul banyak broker yang oleh sebagian negara diregulasi secara tepat; tidak dihambat tapi dikontrol utk memastikan terawasi agar tak ada penyalahgunaan yang merugikan pasar secara sistemik, maka di pasar komoditas pertanian pemainnya meski terdaftar dan diregulasi secara tepat pula paling minimal ada record data system secara real time dan itu sangat mungkin mengingat infrastruktur kementan dan dinas pertanian cukup memadai, ditambah juga dengan kemendag dan bulog tentunya, ntah gimana detailnya mari kita diskusikan!

Persoalan lain yang tak kalah penting, komoditas forex dan komoditas pertanian sama sama bukan pasar dengan nilai sedikit, ya jika diforek anda bisa bikin account mulai 1$ tapi uang 1000-10ribu$ sekalipun betapa kecilnya di samudra pasar uang, maka kehati-hatian sangat penting ibarat hanya memungut remah remah daging sisa makan hiu, sama dengan komoditas pertanian meski harga beras perkilo cuma 10rb, atau di harga gabah kurang dr 5rb, tapi nilai tradingnya paling tidak di level puluhan ton/hari,

Katakan sekali proses pembelian utk bakul atau kulakan tingkat menengah di level kabupaten saja, paling tidak harus bisa 10-20 ton perhari (utk pemain besar di kabupaten paling tidak lebih dari 50 ton perhari) maka nilainya sudah 50-100jt di level pembelian gabah dan 2 kali lipat di level trading beras, marjin penjualan +/- hanya 10% sehingga nilai gross marjin paling hanya 5-10jt masih dikurangi biaya gudang, transport dan memproses ke ritel yang tentu pasti ada marjin penyusutan volume barang, dll, maka utk 10-20 ton perhari hanya bisa dapat nett marjin tak lebih dari 3-6jt saja, Masalahnya 100jt perhari bukan uang kecil di desa bung kalau pun uangnya ada sistemnya sangat kompetitif dan fluktuatif perlu kecerdasan, kelincahan dan keberanian menanggung resiko jg!

Dengan demikian, petani tradisional skala menengah saja tentu tak akan mampu memainkan peran distribusi, mengingat produksi gabah perorang paling hanya ada di kisaran 7-15 ton per 3 bulan, belum lagi komoditas ini panen di musim yang serentak, maka sistem lumbung modern yang terkordinasi perlu dibangun mengingat beras tak tahan lama tapi gabah bisa tahan lama,

Belajar dari, pertanian di negara maju justru dikendalikan korporasi besar atau pemain kecil yang terkonsolidasi secara besar dan difasilitasi negara dengan mekanisme pasar rasional tentunya, Terutama negara-negara berpopulasi besar dan luasan wilayah besar, boro boro ngomongin impor seenak wudhel mereka lebih serius utk melakukan restriksi dagang pengenaan tarif dan non tarif dalam diplomasi dagangnya,

lalu apa yang seharusnya kita desain utk komoditas ini? Ntahlah, yang jelas Big data modelling tentu bisa membantu para pengambil kebijakan! Maka siapapun presidennya nanti yang bercita berdaulat atau swasembada, bikin regulasi yang memungkinkan, utk install data record systemnya dengan pendataan pemain di komoditas ini. Data ini bisa dijadikan landasan bersama antara kementan, kemendag, bulog, pemda dan pelaku pasar utk menata tata usaha komoditas pangan dan holtikultura serta bisa jg utk sektor agro pada umumnya.

Tapi ini kerja periodik minimal 10 tahun ya bukan 100 hari,

[1 tahun simulasi dan evaluasii, 1 tahun mulai pengembangan kebijakan dan develop big data systemnya, 1 sd 2 tahun proses inputing data di system stakeholders, baru di tahun keempat data recordnya bisa terbaca secara bertahap dan di tahun-tahun berikutnya data ini bisa dijadikan alat pengambilan keputusan]

 

Tulisan oleh

Hafidz Arfandi
ketum HMI sleman 2014

 

HMI Cabang Sleman

HMI cabang Sleman, Menuju tatanan peradaban Islam, meraih izzah islam dengan perjuangan MEMPERTEGUH PERKADERAN, MENGABDI UNTUK UMAT BERKARYA UNTUK BANGSA
Close Menu
%d blogger menyukai ini: